Sabtu, 03 Juli 2010

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DIABETES MELITUS (DM) DI RUANG ANGGREK RUMAH SAKIT PARU JEMBER

I. KONSEP PENYAKIT

A. PENGERTIAN

1. Diabetes Melitus adalah suatu sindrom gangguan metabolik kronis, berhubungan dengan hiperglikemi dan kekurangan insulin atau resistensi insulin.

2. Diabetes Melitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemi, glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah dan dibentuk dihati dan makanan yang dikonsumsi (KMB Vol. 2. 2000. Hal : 1230)

3. Diabetes Melitus adalah keadaan dimana hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, syaraf dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basilir dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Kapita Selekta Kedokteran Jilid I, 2000. Hal : 580)

B. ETIOLOGI

1. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun)

2. Obesitas

3. Riwayat keluarga atau genetik

4. Kurang olahraga (exercise)

5. Diet

6. Bahan kimia tertentu

7. Lingkungan

C. MANIFESTASI KLINIS

Gejala khas pada DM, yaitu :

1. Polipagia (banyak minum)

2. Poliuri (banyak BAK)

3. Polidypsia (banyak makan)

Sedangkan gejala lain pada DM yang sering muncul antara lain :

1. Lemas atau kelemahan

2. Kesemutan

3. Berat badan menurun

4. Gatal

5. Mata kabur

6. Impotensi pada pria

7. Pruritis vulva pada wanita dan keputihan

D. KLASIFIKASI ATAU TIPE

Klasifikasi Diabetes yang utama, yaitu :

1. Diabetes Tipe I / IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus)

Kurang lebih 5-10% penderita mengalami diabetes tipe I, yaitu diabetes yang tergantung insulin. Pada diabetes jenis ini, sel-sel Beta pankreas yang dalam keadaan normal menghasilkan hormon insulin dihancurkan oleh suatu proses autuimun. Sebagai akibatnya, penyuntikan insulin diperlukan untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Diabetes tipe I ditandai oleh awitan mendadak yang biasanya terjadi pada usia 30 tahun,

Ciri-ciri klinik :

a. Awitan terjadi pada segala usia, tetapi biasanya usia muda (<>

b. Biasanya bertubuh kurus pada saat di diagnosis, dengan penurunan berat yang baru saja terjadi

c. Etiologi mencakup faktor genetik, imunologi atau lingkungan (misal : virus)

d. Sering memiliki antibodi sel pulau langerhans

e. Sering memiliki antibodi terhadap insulin sekalipun belum pernah mendapatkan terapi insulin

f. Sedikit atau tidak mempunyai insulin endogen

g. Memerlukan insulin untuk mempertahankan kelangsungan hidup

h. Cenderung mengalami ketosis jika tidak memiliki insulin

i. Komplikasi akut hiperglikemi : Ketoasidosis Diabetikum

2. Diabetes Tipe II / NIDDM (Non-Insulin Dependent Diabetes Melitus)

Kurang lebih 90-95 % penderita mengalami diabetes tipe II, yaitu diabetes yang tidak tergantung insulin. Diabetes tipe II terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin) atau akibat penurunan jumlah produksi insulin. Diabetes tipe II pada mulanya diatasi dengan diet dan latihan. Jika kenaikan glukosa darah tetap terjadi, terapi DM dan latihan tersebut dilengkapi dengan obat hipoglikemi oral. Pada sebagian penyandang diabetes tipe II, obat oral tidak mengendalikan keadaan hiperglikemi sehingga diperlukan penyuntikan insulin. Di samping itu, sebagian penyandang diabetes tipe II yang dapat mengendalikan penyakit diabetesnya dengan diet, latihan dan obat hipoglikemi oral. Diabetes tipe II ini paling sering ditemukan pada individu yang berusia > 30 tahun dan obesitas.

Ciri-ciri klinis :

a. Awitan terjadi di segala usia, biasanya > 30 tahun

b. Biasanya bertubuh genuk (obesitas) pada saat didiagnosa

c. Etiologi mencakup faktor obesitas, herediter atau lingkungan

d. Tidak ada antibodi sel pulau langerhans

e. Penurunan produksi insulin endogen atau peningkatan resistensi insulin

f. Mayoritas penderita obesitas dapat mengendalikan kadar glukosa darahnya melalui penurunan BB

g. Agens hipoglikemi oral dapat memperbaiki kadar glukosa darah bila modifikasi diet dan latihan tidak berhasil

h. Mungkin memerlukan insulin dalam waktu yang pendek atau panjang untuk mencegah hiperglikemi

i. Ketosis jarang terjadi kecuali jika dalam kondisi stress atau menderita infeksi

j. Komplikasi akut : sindrom hiperosmolar non ketotik

3. Diabetes Gestasional

Diabetes yang terjadi selama kehamilan perlu mendapat perhatian khusus. Wanita yang sudah diketahui menderita diabetes sebelum terjadinya pembuahan harus mendapatkan penyuluhan atau konseling tentang penatalaksanaan diabetes melitus. Selama kehamilan dianjurkan agar wanita yang menderita diabetes sudah memulai program terapi yang intensif (pemeriksaan kadar glukosa darah 4x / hari dan pemberian suntikan insulin 3-4 x/hari dengan maksud untuk mencapai kadar Hb Aic yang normal 3 bulan, sebelum pembuahan diabetes yang tidak terkontrol pada saat melahirkan akan mengakibatkan makrosokomia janin (janin besar), persalinan sulit, SC, serta kelahiran mati. Juga dapat terjadi hiperglikemi karena pankreas bayi yang normal telah mensekresikan insulin untuk mengimbangi keadaan hiperglikemi ibu.

Ciri-ciri kilinis :

a. Awitan selama kehamilan, biasanya terjadi pada trimester kedua atau ketiga

b. Disebabkan oleh hormone yang disekresikan plasenta dan menghambat kerja insulin

c. Resiko terjadi komplikasi perinatal di atas normal, khususnya makrosokomia

d. Diatasi dengan diet dan insulin jika diperlukan untuk memperhatikan kadar glukosa darah normal

e. Terjadi pada sekitar 2-5 % dari seluruh kehamilan

f. Intoleransi glukosa untuk sementara waktu tetapi dapat kambuh kembali. Pada kehamilan berikutnya 30-40 % akan mengalami diabetes yang nyata (biasanya tipe II dalam waktu 10 tahun)

g. Factor resiko mencakup obesitas, usia > 30 tahun, riwayat diabetes keluarga, pernah melahirkan bayi yang besar > 4 ½ Kg

h. Pemeriksaan skrinning (test tolerransi glukosa) harus dilakukan pada semua wanita hamil dengan usia kehamilan antara 24-28 minggu

Adapun tipe diabetes yang lain, yaitu :

1. Diabetes mellitus yang berkaitan dengan keadaan sindrom lain / DM sekunder

Cirri-ciri klinis :

a. Disertai dengan keadaan yang diketahui atau dicurigai dapat menyebabkan penyakit : pankrearitis, kelainan hormonal, obat glukokortiroid dan preparat yang mengandung estrogen penyandang diabetes

b. Bergantung pada kemampuan pancreas untuk menghasilkan insulin pasien, mungkin memerlukan terapi dengan obat oral atau insulin

2. Toleransi glukosa terganggu / diabetes borderline

Cirri-ciri klinis :

a. Kadar glukosa darah diantara kadar normal dan kadar diabetes

b. Pada akhirnya 25 % individu akan menderita diabetes

c. Kerentanan terhadap penyakit aterosklerosis di atas normal

d. Komplikasi renal dan retinal biasanya tidak signifikan

e. Dapat obesitas atau non obesitas, penderita obesitas harus menurunkan BB-nya

f. Harus menjalani pemeriksaan skrinning untuk diabetes secara berkala

3. Kelainan toleransi glukosa yang terjadi sebelumnya atau diabetes laten

Cirri-ciri klinis :

a. Tidak ada riwayat intoleransi glukosa

b. Risiki mengalami diabetes meningkat jika : riwayat dalam keluarga (+), obesitas, ibu dengan BB bayi > 4 ½ Kg pada saat dilahirkan

c. Nasehat untuk pemeriksaan skrinning dan BB

E. WEB OF CAUCATION (WOC)

F. PEMERIKSAAN FISIK

1. Dengan dilakukan pemeriksaan kadar gula darah

Kadar gula darah plasma pada waktunpuasa (GPD) > 126 mg/dL (SI : 7,8 mmol/L)

Kadar gula darah sewaktu / random (GDS) > 200 mg/dL (SI : 11,1 mmol/L)

Dilakukan satu kali pemeriksaan / lebih.

2. Dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO)

TTGO merupakan pemeriksaan yang lebih sensitive dari pada tes toleransi glukosa IV yang hanya digunakan dalam situasi tertentu.

Cara pemeriksaan :

a. 3 hari sebelum pemeriksaan pasien makan seperti biasa

b. Kegiatan jasmani sementara cukup, tidak terlalu banyak

c. Pasien puasa semalam selama 10-12 jam

d. Periksa glukosa darah puasa

e. Berikan glukosa 75 gr yang dilarutkan dalam air 250 ml, lalu minum dalam waktu 5 menit

f. Periksa glukosa darah 1 jam dan 2 jam sesudah beban glukosa

g. Selama pemeriksaan, pasien yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok

Hasil : glukosa plasma dari sampel diambil 2 jam post pandrial (GD 2JPP) > 200 mg/dL (SI : 11,1 mmol/L)

G. PENATALAKSANAAN

1. Penatalaksanaan diet / makan

Standar santapan dengan komposisi seimbang berupa karbihidrat (60-70 %), protei (10-15%), dan lemak (20-25%). Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stress akut dan kegiatan jasmani untuk mencapai berat badan ideal. Jumlah kandungan kolesterol <>

Penghitungan jumlsh kalori pada pasien DM :

a. Menentukan BB pasien untuk mengetahui jumlah kalori basal pasien

- Menurut Bocca, BB ideal : [TB(cm)-100] – 10 % Kg

- Jika laki-laki TB <>

b. Menentukan jumlah kalori

- BB x 30 (laki-laki)

- BB x 25 (perempuan)

Ø Kerja ringan : ditambah 10 % dari kalori basal

Ø Kerja sedang : ditambah 20 % dari kalori basal

Ø Kerja berat : ditambah 40-100 % dari kalori basal

Ø Pasien kurus, tumbang, infeksi, hamil/menyusui : ditambah 20-30 % dari kalori basal

2. Penatalaksanaan jasmani / olahraga teratur

Dianjurkan latihan jasmani teratur, 3-4 x/ minggu selama 0,5 jam. Latihan dilakukan terus-menerus tanpa berhenti, otot-otot berkontraksi dan berelaksasi secara teratur, selang-seling antara gerak cepat dan lambat, berangsur-angsur dari sedikit-sedikit ke latihan yang lebih berat secara bertahap. Latihan yang dapat dilakukan : jalan kaki, jogging, lari, renang, bersepeda dan mendayung.

DNM (Denyut Nadi Maksimal) : 220 – umur (dalam tahun)

3. OAD (Obat Anti Diabetes)

a. OHO (Obat Hipoglikemi Oral)

- Golongan Sulfoniurea : menstimulasi insulin, menurunkan ambang sekresi insulin, meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa

- Golongan Biquanid : menurunkan kadar glukosa darah tapi tidak sampai di bawah normal

- Golongan Inhibitor Alfa Glukosidase : menghambat kerja enzim Alfa Glukosidase di dalam saluran cerna, sehingga menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemi PP

- Insulin Sensitizing Agent : meningkatkan sensitifitas insulin

b. Insulin

Dosis insulin oral / suntikan dimulai dengan dosis rendah lalu dinaikkan perlahan-lahan sesuai hasil glukosa darah pasien. Kategori insulin :

- Short Acting : durasi 4-6 jam, diberikan 20-30 menit sebelum makan

- Intermediet Acting : durasi 16-20 jam, diberikan sesudah makan

- Long Acting : durasi 20-30 jam, diberikan untuk mengendalikan kadar gula darah puasa

4. Pemberian Edukasi (HE)

H. KOMPLIKASI

1. Komplikasi akut :

a. Hipoglikemi ( koma hipoglikemi)

b. Koma Ketiasidosis

c. KHONK ( Koma Hiperosmolar Non Ketolik)

2. Komplikasi kronik :

a. Makroangiopati : mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darah jantung, pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak. Misalnya PJK, Stroke, Gangren DM.

b. Mikroangiopati : mengenai pembuluh darah kecil / kapiler. Misalnya : retinopati, diabetic, nefropati diabetic

c. Mikro-Makro Angiopati

- Neouorpati

- Komplikasi menahun yang mengenai vaskuler

d. Pengaruh lain : miokarditis, kardiomiopati, DM, artropati

II. ASUHAN KEPERAWATAN

Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien gangren kaki diabetik hendaknya dilakukan secara komperhensif dengan menggunakan proses keperawatan.

Proses keperawatan adalah suatu metode sistematik untuk mengkaji respon manusia terhadap masalah-masalah dan membuat rencana keperawatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah – masalah tersebut. Masalah-masalah kesehatan dapat berhubungan dengan klien keluarga juga orang terdekat atau masyarakat. Proses keperawatan mendokumentasikan kontribusi perawat dalam mengurangi / mengatasi masalah-masalah kesehatan.

Proses keperawatan terdiri dari lima tahapan, yaitu : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah utama dan dasar utama dari proses keperawatan yang mempunyai dua kegiatan pokok, yaitu :

a. Pengumpulan data

Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu dalam menentukan status kesehatan dan pola pertahanan penderita , mengidentifikasikan, kekuatan dan kebutuhan penderita yang dapt diperoleh melalui anamnese, pemeriksaan fisik, pemerikasaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya.

1. Anamnese

a. Identitas penderita

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, status perkawinan, suku bangsa, nomor register, tanggal masuk rumah sakit dan diagnosa medis.

b. Keluhan Utama

Adanya rasa kesemutan pada kaki / tungkai bawah, rasa raba yang menurun, adanya luka yang tidak sembuh – sembuh dan berbau, adanya nyeri pada luka.

c. Riwayat kesehatan sekarang

Berisi tentang kapan terjadinya luka, penyebab terjadinya luka serta upaya yang telah dilakukan oleh penderita untuk mengatasinya.

d. Riwayat kesehatan dahulu

Adanya riwayat penyakit DM atau penyakit – penyakit lain yang ada kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas. Adanya riwayat penyakit jantung, obesitas, maupun arterosklerosis, tindakan medis yang pernah di dapat maupun obat-obatan yang biasa digunakan oleh penderita.

e. Riwayat kesehatan keluarga

Dari genogram keluarga biasanya terdapat salah satu anggota keluarga yang juga menderita DM atau penyakit keturunan yang dapat menyebabkan terjadinya defisiensi insulin misal hipertensi, jantung.

f. Riwayat psikososial

Meliputi informasi mengenai prilaku, perasaan dan emosi yang dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya serta tanggapan keluarga terhadap penyakit penderita.

2. Pemeriksaan fisik

a. Status kesehatan umum

Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi badan, berat badan dan tanda – tanda vital.

b. Kepala dan leher

Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher, telinga kadang-kadang berdenging, adakah gangguan pendengaran, lidah sering terasa tebal, ludah menjadi lebih kental, gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak dan berdarah, apakah penglihatan kabur / ganda, diplopia, lensa mata keruh.

c. Sistem integumen

Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas luka, kelembaban dan shu kulit di daerah sekitar ulkus dan gangren, kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan kuku.

d. Sistem pernafasan

Adakah sesak nafas, batuk, sputum, nyeri dada. Pada penderita DM mudah terjadi infeksi.

e. Sistem kardiovaskuler

Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang, takikardi/bradikardi, hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis.

f. Sistem gastrointestinal

Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi, dehidrase, perubahan berat badan, peningkatan lingkar abdomen, obesitas.

g. Sistem urinary

Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat berkemih.

h. Sistem muskuloskeletal

Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahn tinggi badan, cepat lelah, lemah dan nyeri, adanya gangren di ekstrimitas.

i. Sistem neurologis

Terjadi penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi, mengantuk, reflek lambat, kacau mental, disorientasi.

3. Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah :

a. Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl.

b. Urine

Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan dilakukan dengan cara Benedict ( reduksi ). Hasil dapat dilihat melalui perubahan warna pada urine : hijau ( + ), kuning ( ++ ), merah ( +++ ), dan merah bata ( ++++ ).

c. Kultur pus

Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis kuman.

b. Analisa Data

Data yang sudah terkumpul selanjutnya dikelompokan dan dilakukan analisa serta sintesa data. Dalam mengelompokan data dibedakan atas data subyektif dan data obyektif dan berpedoman pada teori Abraham Maslow yang terdiri dari :

1. Kebutuhan dasar atau fisiologis

2. Kebutuhan rasa aman

3. Kebutuhan cinta dan kasih sayang

4. Kebutuhan harga diri

5. Kebutuhan aktualisasi diri

Data yang telah dikelompokkan tadi di analisa sehingga dapat diambil kesimpulan tentang masalah keperawatan dan kemungkinan penyebab, yang dapat dirumuskan dalam bentuk diagnosa keperawatan meliputi aktual, potensial, dan kemungkinan.

2. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon individu, keluarga atau komunitas terhadap proses kehidupan/ masalah kesehatan. Aktual atau potensial dan kemungkinan dan membutuhkan tindakan keperawatan untuk memecahkan masalah tersebut.

1. Kurangnya volume cairan dalam tubuh sehubungan dengan out put urin yang meningkat (osmotik deurisis)

2. Gangguan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan hipermetabolisme : proses infeksi

Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi

Kriteria hasil : 1. Berat badan dan tinggi badan ideal.

2. Pasien mematuhi dietnya.

3. Kadar gula darah dalam batas normal.

4. Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia.

Rencana Tindakan :

1. Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan.

Rasional : Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat.

2. Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan.

Rasional : Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya hipoglikemia/hiperglikemia.

3. Timbang berat badan setiap seminggu sekali.

Rasional : Mengetahui perkembangan berat badan pasien ( berat badan merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet ).

4. Identifikasi perubahan pola makan.

Rasional : Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang ditetapkan.

5. Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet diabetik.

Rasional : Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam jaringan sehingga gula darah menurun,pemberian diet yang sesuai dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi

3. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Tujuan : Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya.

Kriteria Hasil : 1. Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya.

2. Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh.

Rencana Tindakan :

1. Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit DM dan gangren.

Rasional : Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien/keluarga.

2. Kaji latar belakang pendidikan pasien.

Rasional : Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien.

3. Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti.

Rasional : Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.

4. Jelasakan prosedur yang kan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya.

Rasional : Dengan penjelasdan yang ada dan ikut secra langsung dalam tindakan yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang.

5. Gunakan gambar-gambar dalam memberikan penjelasan (jika ada / memungkinkan).

Rasional : gambar-gambar dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan.

0 komentar:

Posting Komentar