Sabtu, 03 Juli 2010

CONTOH LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ketika orang akan mengerjakan sesuatu, maka orang tersebut mestinya menetapkan sasaran yang akan dicapai. Untuk mencapai sasaran yang hendak dicapai itu seseorang memiliki pendekatan yang tepat sehingga diperoleh hasil yang optimal, berhasil guna dan tepat guna.

Meskipun telah dikatakan oleh nisbet(1985) bahwa tidak ada cara belajar (tunggal) yang paling benar, dan cara mengajar yang paling baik, orang-orang berbeda dalam kemampuan inrelektual, sikap dan kepribadian sehingga mereka mengadopsi pendekatan-pendekatan yang karakteristiknya berbeda untuk belajar. Dari sini dapat kita katakana bahwa masing-masing individu akan memilih cara dan gayanya sendiri untuk belajar dan untuk mengajar, namun setidak-tidaknya ada karakteristik tertentu dalam pendekatan pembelajaran tertentu yang khas dibandingkan dengan pendekatan lain.

Matematika merupakan mata pelajaran yang diberikan kepada setiap jenjang pendidikan di Indonesia mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Matematika diberikan untuk meningkatkan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif sehingga diperlukan suatu model pembelajaran tertentu untuk memahami suatu konsep yang diajarkan

1.2 Rumusan Masalah

Menurut latar belakang tersebut di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam laporan ini antara lain :

1. Apakah inti tujuan pendidikan jangka panjang dan jangka pendek?

2. Apakah karakteristik individu sukses di abad 21?

3. Apakah tujuan belajar matematika berdasarkan standar isi 2006?

4. Seperti apakah pembelajaran matematika yang inovatif?

5. Apa model / strategi / pendekatan / metode pembelajaran yang relevan?

6. Apakah hambatan mendasar yang selama ini dihadapi?

7. Bagaimana jalan keluar untuk menghadapi hambatan tersebut?

1.3 Tujuan dan Manfaat

1. Calon guru dapat memanfaatkan metode pembelajaran tertentu untuk memudahkan dalam penanaman konsep materi yang diajarkan.

2. Membantu calon guru agar dapat memilih metode pembelajaran yang tepat.

3. Untuk mengoptimalkan proses pembelajaran sehingga standar kurikulum dapat tercapai.

BAB II

PELAKSANAAN KEGIATAN

2.1 Tempat dan Waktu

Pelaksanaan Kegiatan Praktik Kerja Lapangan dilaksanakan di dua tempat antara lain:

Hari pertama yaitu:

Hari / tanggal : Selasa, 20 Pebruari 2009

Waktu : 09.00 s/d 15.30 WIB

Tempat :Laboratorium Pusat Pengembangan Pelatihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan ( P4TK ) di Sleman, Yogyakarta.

Hari kedua yaitu :

Hari / tanggal : Rabu, 21 Pebruari 2009

Waktu : 09.00 s/d 11.30 WIB

Tempat : Universitas Negeri Yogyakarta ( UNY )

2.2 Metode dan Jenis Kegiatan

Dalam Praktik Kerja Lapangan ( PKL ) tersebut yang dilakukan adalah pengenalan tentang P4TKM dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kepada mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Jember. Pembahasan materi di P4TKM bertemakan “ Metodelogi Pembelajaran”.Metode yang digunakan dalam pembahasan materi ini adalah :

1. Metode Observasi : Melihat langsung lokasi P4TKM dan objek yang ada didalamnya .

2. Metode Ceramah :Para pembimbing P4TKM mempraktekkan materi dengan berceramah .

3. Metode Tanya Jawab : Para mahasiswa bertanya apa saja yang mereka belum ketahui di P4TKM tentang pembelajaran matematika yang berkaitan dengan metodelogi pembelajaran .

4. Metode demonstrasi : Para pembimbing P4TKM memberikan informasi/mendemonstrasikan alat peraga apa saja yang ada di P4TKM.

5. Metode Eksperimen : Para mahasiswa diberikan kesempatan untuk menggunakan alat peraga yang tersedia. Selain itu kita dibimbing untuk menemukan pola permainan katak loncat dan menara Hanoi.

Sedangkan pembahasan materi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) adalah mengenai pengenalan program study pendidikan matematika yang meliputi kegiatan HMP, UKM, serta kegiatan perkuliahan di sana. Metode yang digunakan adalah :

1. Metode Ceramah : Pemberian materi mengenai selayang pandang oleh para pemateri.

2. Metode Tanya Jawab : Para mahasiswa diperkenankan untuk menanyakan struktur organisasi( HMP ) pendidikan matematika beserta kegiatan yang dilakukan seperti olimpiade

matematika tingkat nasional.

2.3 Teknis Pelaksanaan Kegiatan

1. P4TKM

Acara

Waktu

Keterangan

Pembukaan

Presentasi Materi

Istirahat

Presentasi Materi

Penutupan

09.00 – 09.30

09.30 – 12.30

12.30 – 13.30

13.30 – 15.00

15.00 – 15.30

Ø Sambutan perwakilan dari kepala P4TKM

Ø Sambutan Widyaiswara P4TKM Yogyakarta

Ø Sambutan dosen pendamping PKL FKIP pendidikan Matematika 2006

Ø Penyerahan cinderamata

Ø Tutor mempresentasikan materi tentang pembelajaran problem solving dan dilanjutkan dengan Tanya jawab

Ø Tutor mempresentasikan materi tentang metodelogi pembelajaran dan dilanjutkan dengan Tanya jawab

Ø Makan siang dan Sholat

Ø Tutor mempresentasikan materi tentang alat peraga dan dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab.

Ø Penyerahan sertifikat secara simbolis oleh pihak P4TKM kepada mahasiswa FKIP pendidikan Matematika.

Ø Mengunjungi tempat penyimpanan alat peraga.

2. Universitas Negeri Yogyakarta

Acara

Waktu

Keterangan

Pembukaan

Presentasi materi

Penutupan

09.00 – 09.30

09.30 – 11.30

11.30 – 11.45

Ø Sambutan perwakilan dari pihak UNY.

Ø Sambutan pendamping PKL FKIP Program studi Pendidikan Matematika.

Ø Penyerahan cinderamata.

Ø Pihak UNY menjelaskan tentang awal berdirinya UNY.

Ø Tanya jawab seputar struktur organisasi beserta kegiatan HMP Pendidikan Matematika UNY.

Ø Doa dan foto bersama.

2.4 Kendala dan Pemecahan

Dalam pembahasan materi ‘metodologi pembelajaran’ ini mahasiswa tidak dapat langsung menfaatkan dan menggunakan alat peraga secara keseluruhan dikarenakan waktu yang sangat terbatas. Penyampaian materipun terbatas, hanya terbatas pada metode ceramah tanpa bias menggunakan media computer secara langsung.

Untuk melakukan kegiatan PKL yang optimal, maka waktu yang digunakan harus seoptimal mungkin sesuai dengan materi yang disampaikan dan mahasiswa diberikan waktu untuk melakukan kegiatan atau praktek secara langsung sehingga materi yang diberikan dapat dengan mudah diterima oleh mahasiswa.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tujuan Mata Pelajaran Matematika mengacu pada Standar Isi dari Kep. Mendiknas No. 22 tahun 2006 (Depdiknas : 2), mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :

  1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.
  2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
  3. Memecahkan masalah meliputi kemampuan memecahkan masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
  4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
  5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. (Depdiknas : 2)

Dalam pembelajaran matematika terdapat Problem solving atau pemecahan masalah, merupakan masalah yang benar – benar sentral dalam pembelajaran matematika. Lebih-lebih dalam kurikulum matematika, hampir di semua Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, akan dijumpai penegasan diperlukannya kemampuan pemecahan masalah. Hal ini ditegaskan pada tujuan pembelajaran matematika yang ke tiga adalah : (3) Mengembangkan kemampuan pemecahan masalah (Depdiknas, 2003 : 1). Dalam rambu-rambu pelaksanaan kurikulum matematika secara tegas disebutkan bahwa dalam pembelajaran matematika, pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika, yang mencakup masalah tertutup, mempunyai solusi tunggal, terbuka atau maslah dengan berbagai cara penyelesaian. (Depdiknas, 2003 : 4). Dari uraian di atas jelas bahwa pemecahan masalah adalah sangat penting di dalam pembelajaran matematika.

1. Hakikat Problem Solving pada Pembelajaran Matematika.

Istilah problem solving mempunyai pengertian bermacam-macam, tergantung pada disiplin dan profesi dari orang yang mengartikannya. Suatu misal troubleshooting (mencari dan memecahkan kesulitan) adalah salah satu dari pengertian yang dianggap sama dengan pengertian problem solving, di samping mengkreasi ide baru dan menemukan produk atau teknik baru merupakan pengertian yang lain dari problem solving. Pengertian problem solving dalam matematika mempunyai arti yang lebih spesifik, namun demikian di situpun masih mempunyai perbedaan-perbedan apresiasi. Branca (1980:3) menegaskan bahwa dalam pembelajaran matematika problem solving merupakan : (1) tujuan, (2) proses dan (3) ketrampilan dasar.

a. Problem solving sebagai suatu tujuan (goal).

Jika kepada para pengajar atau para pendidik matematika serta para matematisi dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan : Mengapa kita mengajarkan matematika ? Apa sajakah tujuan pembelajaran matematika? Sebagai jawab dari pertanyaan itu akan menggiring kepada kesepakatan untuk menempatkan problem solving pada tujuan dari pembelajaran matematika. Pertimbangan yang penting di sini adalah bahwa membelajarkan bagaimana menyelesaikan suatu masalah adalah alasan utama untuk belajar matematika.

Kemampuan problem solving di sini sesuai dengan penegasan dari Branca tersebut di atas adalah merupakan tujuan dari pembelajaran matematika, dan dinyatakan selanjutnya bahwa justifikasi yang sesungguhnya untuk pembelajaran matematika adalah sesuatu yang sangat berguna, yang secara khusus dapat membantu di dalam penyelesaian berbagai macam masalah baik dalam matematika itu sendiri maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi menurut pandangan ini, kemampuan problem solving siswa yaitu kemampuan menggunakan segenap pengetahuan yang dimiliki siswa untuk memecahkan persoalan dalam situasi yang baru atau yang tidak seperti biasanya (non routine) adalah salah satu tujuan (goal) dalam pembelajaran matematika.

b. Problem solving adalah suatu proses

Menurut Branca (1980:4) interpretasi problem solving inilah yang kelihatannya lebih baik dibanding dengan pengertian bahwa problem solving berintikan jawab siswa yang diberikan untuk suatu persoalan dan langkah-langkah yang dia gunakan untuk sampai pada suatu jawab. Alasan pokok yang mendasari interpretasi ini adalah dipergunakannya berbagai metode, prosedur, strategi dan heuristic (langkah kunci) oleh siswa untuk menyelesaikan suatu persoalan. Ini semua adalah bagian-bagian dari proses problem solving yang esensial yang menjadi fokus dari kurikulum matematika.

Sehingga tepatlah pandangan yang menyatakan bahwa problem solving pada hakikatnya suatu proses.

c. Problem Solving adalah suatu Basic Skills (Ketrampilan Dasar)

Pengertian lain yang tak kalah pentingnya adalah pengertian bahwa problem solving pada hakikatnya suatu basic skills yang sangat diharapkan akan dihasilkan di dalam suatu proses pembelajaran matematika. Berbagai studi di Amerika Serikat tentang apakah sebenarnya basic skills dari matematika itu, Branca (1980:4) dalam artikelnya dalam the 1980 NCTM Yearbook menguraikan bahwa studi yang dilakukan oleh School Mathematics Study Group (SMSG) di dalam kesimpulannya yang menyoroti basic skill dalam matematika pada bab ke sembilan belas secara keseluruhannya memusatkan konsentrasinya hanya pada problem solving

Pada interpretasi bahwa problem solving merupakan basic mathematical skills, bahwa seseorang dituntut untuk memahami isi dari dari persoalannya, jenis persoalannya, dan cara-cara mencari solusinya. Esensi pokok dari problem solving adalah bahwa semua siswa mesti belajar dan memilih segenap kebutuhan yang sesuai dengan persoalannya dan teknik-teknik yang diperlukan untuk mencari solusi suatu persoalan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa problem solving merupakan basic skills di dalam pembelajaran matematika maupun implementasinya dalam kehidupan sehari-hari

Dapat difahami bahwa Charles dan Lester (1982:1) menegaskan bahwa problem solving dalam matematika adalah sangat penting atau bahkan yang terpenting, karena problem solving bukan sekedar mampu menyelesaikan persoalan namun problem solving adalah tujuan, proses dan sekaligus basic skill dalam pembelajaran matematika.

Inti tujuan pendidikan jangka panjang adalah siswa selamat dan bahagia dunia-akhirat (Abdur Rachman As’ari, 2007):

Inti tujuan pendidikan jangka pendek adalah Siswa mampu bertahan hidup atau memberikan warna kehidupan pada abad ke-21 (Abdur Rachman As’ari, 2007):

l Karakteristik abad 21:

Merupakan dunia digital , menuntut pemikiran inventif: perlu berpikir inovatif, kreatif, menuntut komunikasi efektif, menuntut produktivitas tinggi (Abdur Rachman As’ari, 2007)

l Karakteristik individu sukses di abad 21:

o Pemikir analitis,

o Pemecah masalah,

o Inovatif dan kreatif,

o Komunikator efektif,

o Kolaborator efektif,

o Melek informasi dan media,

o Memiliki kesadaran global,

o Melek finansial dan ekonomi

Standar Isi 2006: Tujuan belajar matematika adalah agar siswa mahir matematika

Mahir matematika, artinya mampu:

q Memahami konsep matematika (termasuk menjalankan prosedur/algoritma dengan lancar)

q Menggunakan penalaran

q Memecahkan masalah

q Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain

q Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan

Sehingga perlu pembelajaran matematika yang inovati, tidak sekedarnya saja.

Pembelajaran matematika yang inovatif yaitu pembelajaran yang mampu membuat siswa sukses di abad 21, sehingga mahir matematika. Karena mahir matematika dapat membuat siswa memiliki karakteristik manusia abad 21 yaitu mampu berpikir inovatif, kreatif, pemikir analitis (tidak sekedar mampu mengingat, paham dan mengaplikasikan), komunikator yang efektif, pemecah masalah yang handal.

Model pembelajaran adalah alat untuk melak-sanakan pembelajaran agar berhasil. Model atau strategi atau pendekatan atau metode pembelajaran yang relevan adalah yang “membelajarkan”, misalnya yang sudah dikenal selama ini: CTL, PAKEM, PMRI, ICT, Kooperatif, Berbasis masalah, Direct Instruction (khususnya untuk melatih kelancaran menjalankan prosedur atau algoritma), karena model yang ‘membelajarkan’ berpotensi untuk membuat siswa menjadi kolaborator efektif, melek informasi dan media, muncul kesadaran global, melek finansial dan ekonomi.

Hambatan mendasar yang selama ini dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran matematika yang inovatif ialah :

q Aplikasi model belum variatif,

q Umumnya baru membantu siswa agar lancar menjalankan prosedur, memahami konsep dan belum melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (kreatif, evaluatif, analitis),

q Sulitnya mengubah paradigma “mengajar” ke “membelajarkan”

Sehingga yang harus kita lakukan ialah :

q Membiasakan penerapan model dan metode pembelajaran yang variatif pada kegiatan sehari-hari

q Membelajarkan matematika dengan tujuan agar siswa mahir matematika, tak sekedar lancar menjalankan prosedur dan memahami konsep matematika,

q Terus meng-update pengetahuan dan pemahaman tentang metode pembelajaran dari berbagai sumber

Solusi yang paling utama ialah :

q Tanamkan TEKAD dalam diri untuk menerapkan paradigma “ membelajarkan” secara bertahap dan terus menerus

q Tanamkan TEKAD dalam diri untuk “ membelajarkan” matematika agar siswa MAHIR MATEMATIKA secara bertahap dan terus menerus

q MENCOBA mulai dari diri sendiri dan sesegera mungkin, BERBUAT, TEGUH, MENGEDEPANKAN PRINSIP IBADAH

Teknis pelaksanaan pembelajaran matematika yang inovatif ialah :

q Membuat silabus dan RPP dengan model dan metode bervariasi yang berorientasi membuat siswa mahir matematika, tak sekedar paham konsep dan lancar menjalankan prosedur

q Membuat instrumen-instrumen untuk tugas, ulangan dan ujian yang mencakup sasaran berpikir tingkat tinggi (kreatif, evaluatif, analitis), tak sekedar mengingat, memahami, mengaplikasikan.

Salah satu alat peraga yang dapat kita gunakan dalam pembelajaran matematika adalah menara Hanoi. Menara Hanoi merupakan salah satu alat peraga yang di dalamnya kita dapat menemukan pola. Untuk mencari polanya, kita harus memindahkan keeping dari tiang yang paling kiri ke tiang yang paling kanan dengan aturan keping yang kecil selalu berada di atas keping yang lebih besar. Sebagai awal dari permainan kita cukup menggunakan 1 keping kemudian catat jumlah minimum perpindahannya. Lakukan dengan langkah yang sama namun dengan menambahkan jumlah kepingnya yaitu 3, 4, 5, 6, dan 7 keping. Dari hasil tersebut nampak bahwa terdapat suatu barisan yang dapat ditemukan suatu pola tertentu yaitu 2­­­ -1.

Universitas Negeri Yogyakarta merupakan salah satu contoh Universitas negeri di Yogyakarta. Visi pada tahun 2010, UNY mampu menghasilkan insan cendekia, mandiri, dan bernurani.

Fakultas di IKIP Yogyakarta (1982) :

o Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP)

o Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS)

o Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA)

o Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS)s

o Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK)

o Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK)

Perluasan Mandat & Konversi :

q 1997: IKIP Yogyakarta membuka 12 Program Studi Non Kependidikan

q 4 Agustus 1999: lKIP YOGYAKARTA dikonversi, berubah menjadi

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Fakultas di UNY antara lain :

q Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)

q Fakultas Teknik (FT)

q Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP)

q Fakultas Bahasa dan Seni (FBS)

q Fakultas Ilmu Sosial (FIS)

q Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK)

Lembaga & Unit Kerja :

q Lembaga Penelitian

q Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat

q UPT Pusat Komputer

q Pusat Pembinaan dan Pengembangan Aktivitas Instraksional (P3AI)

q Unit Pelayanan Praktik Pengembangan Lapangan

q Unit Pelayanan Bimbingan dan Konseling

q Unit Pelayanan Kesehatan

Unit Kegiatan Mahasiswa :

o Bidang Olah Raga (18 UKM)

o Bidang Kesenian (band , teater, paduan suara, marching band, vokal grup, seni tradisi, seni rupa, dsb)

o Bidang Khusus (pramuka, menwa, KSR)

o Bidang Penalaran (penelitian, penerbitan, broad casting)

o Bidang Kesejahteraan (koperasi, kerokhanian)

FMIPA UNY

Ú Jurusan Pendidikan Matematika

Program Studi Pendidikan Matematika

Program Studi Matematika

Ú Jurusan Pendidikan Fisika

Program Studi Pendidikan Fisika

Program Studi Fisika

Ú Jurusan Pendidikan Kimia

Program Studi Pendidikan Kimia

Program Studi Kimia

Ú Jurusan Pendidikan Biologi

Program Studi Pendidikan Biologi

Program Studi Biologi

Non Reguler Non-Kependidikan: sejak tahun 2000

Non Reguler Kependidikan: sejak tahun 2003

Penerimaan mahasiswa baru & kurikulum :

q Reguler: SNMPTN & PBU

q Non Reguler: Tes Tertulis & PBD

q Kurikulum 2002, sistem kredit

q 144 sks, 8 semester

q Mata kuliah wajib & pilihan

q Skripsi

LABORATORIUM :

o Matematika, Pendidikan Matematika, Komputer

o Fisika Dasar, Fisika Lanjut, Elektronika, Fisika Komputasi, Workshop Fisika, Pendidikan Fisika

o Kimia Dasar, Kimia Organik, Biokimia, Kimia Fisika, Kimia Analisis, Kimia Anorganik, Workshop Pendidikan Kimia

o Biologi Dasar, Bioteknologi, Zoologi, Botani, Lingkungan & Ekologi, Pendidikan Biologi

LAYANAN :

q Program Sertifikasi Jalur Pendidikan untuk guru SMP

q Pelatihan (pendalaman materi, pembuatan media, pengembangan kurikulum/silabus/ sistem evaluasi, penggunaan & perawatan alat lab, penggunaan jaringan / internet)

q Konsultasi (kurikulum, media, metodologi penelitian, penyusunan karya ilmiah)

Lebih khusus dengan Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY :

Pada tahun 2020 telah terwujud jurusan yang memiliki sistem dan budaya kerja sinergis yang menghargai belajar, nilai-nilai keadilan, kedamaian dan kesantunan serta bertanggung jawab dan kreatif dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi, sehingga mampu menghasilkan sarjana matematika yang unggul dalam penguasaan matematika dan terapannya serta sarjana pendidikan matematika yang selain unggul dalam penguasaan matematika juga unggul dalam pengembangan teknologi pembelajaran matematika, bermoral dan berakhlak mulia sesuai dengan tuntutan masyarakat global.

MAHASISWA :

Matematika Reguler: 177

Matematika Non Reguler: 205

Pendidikan Matematika Reguler: 178

Pendidikan Matematika Non Reguler: 116

Pend Mat: Mat:

UNU:9 sks UNU: 9 sks

UNK:11 sks UNK: 0 sks

MAT:96 sks MAT: 96 sks

PMT wajib: 22 sks SMT wajib:15 sks

PMT pilihan:6 sks SMT pilihan:24 sks

Gelar tambahan: 39 sks

LABORATORIUM :

PENDIDIKAN MATEMATIKA: bengkel, audio visual, alat peraga, ruang seminar

MATEMATIKA: perpustakaan, studio bahasa

Komputer: 2 ruang (untuk praktikum dan kuliah on-line)

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. Pembelajaran matematika yang inovatif adalah yang mampu membuat siswa mahir matematika: paham konsep, lancar menjalankan prosedur, mampu bernalar dengan baik-khususnya untuk memecahkan masalah, mampu memahami dan menerapkan berbagai prosedur memecahkan masalah, bersikap positif terhadap kegunaan belajar matematika dalam kehidupan.

2. Pembelajaran matematika yang inovatif adalah yang dikelola dengan model atau metode pembelajaran yang “membelajarkan”, bukan “mengajar”.

3. Dengan melakukan nomor 1 dan 2 itu, diharapkan dapat terbentuk siswa yang mampu bertahan hidup atau memberikan warna kehidupan pada abad ke-21.

4.2 Saran

1. Diharapkan guru mampu memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan konsep yang akan ditanamkan kepada siswa

2. Diharapkan guru.dapat memilih alat peraga yang sesuai dengan materi yang diajarkan untuk lebih memudahakan siswa memahami konsep tertentu.

3. Diharapkan model pembelajaran yang diterapkan dapat prestasi dan motivasi siswa.

DAFTAR PUSTAKA

JICA, 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporis. Bandung : Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Universitas Indonesia.

Wardani, Sri.2009.Pembelajaran Matematika SMP yang Inovatif. Yogyakarta : P4TKM.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar